Foreign News

Los primeros "jeepneys" ecológicos recorren las calles de Manila

E-mail Print PDF

From El Siglo de Durano
Source: http://www.elsiglodedurango.com.mx/noticia/238915.los-primeros-jeepneys-...

Los primeros doce jeepneys ecológicos, vehículos jeep para el transporte de pasajeros alimentados con energía eléctrica, comenzaron hoy a recorrer las primeras rutas en las congestionadas calles de Manila.

Estos vehículos, con capacidad para 12 plazas, aunque suelen llevar a bastantes más pasajeros, ofrecerán viajes gratis durante las horas puntas en la capital filipina para promover un tipo de transporte ecológico.

"Estamos poniendo las soluciones climáticas del mañana en marcha para los filipinos de hoy, los jeepneys electrónicos será el medio de transporte más habitual dentro de poco", afirmó el director del Instituto para el Clima y la Sostenibilidad en las Ciudades (ICSC), Red Constantino, durante la presentación de los nuevos vehículos.

Sin embargo, los 12 vehículos representan una gota en el océano de jeepneys de gasóleo, autobuses y coches particulares que alimentan con toneladas de CO2 la nube de polución que cubre la capital filipina.

Al igual que sus primos convencionales, los jeepneys electrónicos están "tuneados" con coloridos dibujos, tanto de imágenes religiosas como de temas más mundanos, y lemas como "Rebolusyionaryo" (Revolucionario) o "Sakay na" (Súbete).

Constantino afirmó que este proyecto contribuirá a reducir las emisiones de gases de efecto invernadero, que según los científicos se triplicarán en Asia en los próximos 20 años, en gran parte debido al sector del transporte.

Los jeepneys eléctricos han sido construidos en virtud de un consorcio internacional formado por la Asociación de Fabricantes de Partes de Vehículos de Filipinas, la Fundación por el Medio Ambiente filipina, Greenpeaceace y el grupo holandés Stichting Doen, entre otros.

El "jeepney", el medio de transporte más popular en todo el país, surgió hace más de 60 años, cuando los soldados de Estados Unidos abandonaron miles de jeep militares entre los escombros de las ciudades filipinas durante la Segunda Guerra Mundial.

Al carecer de otro medio de transporte, los locales optaron por reciclar los jeep norteamericanos con planchas de aluminio para hacerlos más largos y resistentes.

Con tarifas muy reducidas (un mínimo de diez pesos o menos de 15 centavos de dólar), estos vehículos generan atascos habituales al recoger viajeros en cualquier sitio, sin paradas fijas.

Las autoridades confían en que, con la nueva versión eléctrica, al menos no contaminen tanto y contribuyan a reducir los riesgos del cambio climático.

Rusaknya Ekosistem di Asia Perburuk Banjir Maut

E-mail Print PDF

PERUBAHAN iklim bisa jadi memainkan suatu peranan dalam hujan-hujan rekor yang melanda Asia tapi para pakar lingkungan mengemukakan kerusakan ekosistem bisa disalahkan lebih langsung atas parahnya banjir-banjir maut itu.

Penggundulan hutan sangat luas, pengalihan rawa-rawa jadi lahan pertanian atau lokasi perkotaan dan penyumbatan sistem-sistem drainase alam dengan sampah merupakan sebagian dari banyak faktor yang memperburuk dampak banjir tersebut.

"Anda tidak bisa hanya menyalahkan alam...manusia telah merusak hamparan banjir alami," ujar Ganesh Pangare, kordinator urusan air dan rawa regional yang berkedudukan di Bangkok dari International Union for Conservation of Nature.

Pangare mengemukakan manajemen dataran lintasan banjir yang lebih baik akan membatasi kerugian yang diderita manusia dan ekonomi akibat bencana alam seperti hujan rekor di Pakistan yang menewaskan sekira 1.400 orang.

"Anda harus memastikan bahwa infrastruktur alam dilindungi. Jika tidak, pembangunan di Asia tidak akan bisa berkesinambungan," tegasnya.

REd Constantino, kepala Institute for Climate and Sustainable Cities yang berkantor pusat di Manila mengatakan perubahan iklim makin sering dijadikan kambing hitam bagi para pemimpin Asia untuk memaafkan diri sendiri bila terjadi bencana-bencana alam.

"Bila ada banjir besar maka sudah lazim perubahan iklim dituding padahal banyak dari problema itu sebetulnya dapat diatasi pada level lokal," tandas Constantino.

"Apakah anda di Jakarta atau Bangkok atau Manila, anda punya isu dasar terkait buruknya manajemen limbah, parahnya manajemen tanah dan kawasan perkotaan."

Constantino mengacu pada kehancuran di Manila tahun lalu ketika Badai Tropis Ketsana menyurahkan hujan-hujan terlebat dalam empat dekade ke ibukota Pilipina itu.

Delapan puluh persen dari kota itu digenangi banjir pada puncak banjir dan lebih 400 orang meninggal.

Namun walaupun presiden saat itu Gloria Arroyo menyatakan perubahan iklim merupakan sebab parahnya badai tersebut, sejumlah faktor manusia yang lebih langsung dipersalahkan atas tingginya korban jiwa itu.

Bangun

Jutaan orang yang membangun rumah di sepanjang dataran lintasan banjir dalam beberapa dekade terakhir, penghancuran hutan di hulu sungai dan makin parahnya sampah yang menyumbat aliran sungai jadi memperburuk bencana itu, papar Constantino.

"Metro Manila kini harus mengatasi bermacam konsekuensi perencanaan yang betul-betul tidak becus," ujarnya, seraya menegaskan bencana itu tidak mendatangkan hikmah, terbukti tidak ada perubahan besar dalam kebijakan manajemen urban kota tersebut.

Bruce Dunn, spesialis lingkungan dari Departemen Pembangunan Berkesinambungan dan Regional Bank Pembangunan Asia, menegaskan kerusakan hutan-hutan di seluruh Asia merupakan salah satu faktor utama yang memperbesar bencana-bencana banjir.

Dia mengacu pada sebuah studi oleh Charles Darwin University Australia dan National University of Singapore yang menemukan berkurangnya luas hutan sebesar 10 persen menyebabkan frekuensi banjir naik antara empat sampai 28 persen.

Perbaikan

Namun, di tengah berlanjutnya kerusakan yang makin parah atas ekosistem di Asia, Dunn menegaskan ada beberapa contoh terjadinya perbaikan.

Dia menyebutkan upaya reboisasi China, yang dimulai setelah negara itu dilandan banjir-banjir masif pada tahun 1980-an.

"Pada waktu itu level penggundulan hutan sangat tinggi dan dalam waktu cukup singkat terjadi perubahan kebijakan secara kilat," papar Dunn.

"Kini, menyangkut lindungan hutan, Asia meningkatkan sedikit luas hutannya dikarenakan reboisasi di China."

Pangare juga mengangkat tema itu, dengan mengatakan investasi pada "infrastruktur alam" merukan satu-satunya cara untuk melindungi masyarakat dari bermacam dampak kemungkinan banjir-banjir yang disebabkan perubahan iklim.

"Membangun beton dan tembok untuk menghentikan banjir bukanlah jawabannya," tandas Pangare.

"Anda harus menanamkan investasi pada infrastruktur alam -- hutan, muara sungai, danau dan rawa-rawa." (afp/bh)

Source: http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id...

copy

e-Jeepney Designs

Contact Info

Institute for Climate and Sustainable Cities (iCSC)

Unit 211 Eagle Court Condominium, 26 Matalino Street, Central District
Diliman, Quezon City, Philippines

Tel: (+632) 990-3073 / (+632) 435-7939
Email: ejeepney@gmail.com
Website: http://www.ejeepney.org

You are here News Foreign News